AKSIOLOGI
AKSIOLOGI
INSTITUT PESANTREN MATHALIUL FALAH
MAKALAH
Disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu
Disusun oleh:
1.Moh Taufiqil Aniq
16.13.00221
2. Tri Ekawati
16.13.00025
3.Ari Risdayatun
16.13.00100
4. Puput Alshah Khumairoh
16.13.00109
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYYAH
FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT
PESANTREN MATHALI’UL FALAH
PATI
2016
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Ilmu merupakan sesuatu yang penting bagi manusia, karena dengan ilmu
semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan
lebih mudah. Dan merupakan kenyataan yang tidakbisa dipungkiri bahwa peradaban
manusia sangat berhutang kepada ilmu. Ilmu telah banyak mengubah wajah dunia.
Dengan kemajuan ilmu juga manusia bisa merasakan kemudahan. Singkatnya ilmu
merupakan sarana untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.
Dalam kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan
bagi kehidupan manusia tentang nilai-nilai khususnya etika.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak
bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan
dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan
ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan
kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya menimbulkan bencana.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami akan mencoba membahas tentang beberapa
pertanyaan berikut;
1. Apa itu aksiologi?
2.
Apa
itu pendekatan pendekatan dalam aksiologi.
3. Apa itu nilai dalam
aksiologi.
A. Pengertian Aksiologi
Aksiologi
berasal dari kata Yunani: axion yang berarti nilai dan logosyang
berarti teori.Jadi aksiologi dapat diartikan sebagai ‘’teori tentang nilai’’.[1]Untuk
lebih mengenal apa yang dimaksud dengan aksiologi, ini adalah beberapa definisi
tentang aksiologi, diantaranya:
1.
Arti
aksiologi yang terdapat dalam bukunya jujun S.Suriasumantri Filsafat Ilmu
Sebuah Pengantar Popiler bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang
berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang di peroleh.[2]
2.
Menurut
bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu
tinadakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua,
esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan.
Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan
melahirkan filsafat sosio politik.[3]
3.
Dalam
Encyclopedia of Philosophy dijelaskan,
aksiologi disamakan dengan Value and Valuation. Ada tiga bentuk Value and
Valuaion.
a.
Nilai,
digunakan sebagai kata benda abstrak.
b.
Nilai
sebagai kata benda konkret.
c.
Nilai juga
digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai, dan
dinilai.
Dari definisi definisi mengenai aksiologi di atas,
trlihat dengan jelas bahwa permasalahannya yang utama adalah mengenai ilmu. Aksiologi terdiri dari dua hal utama, yaitu:
1. Etika
2. Estetika
Aksiologi sebagai
cabang filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada
umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan.
Nilai Intrinsik, contohnya pisau dikatakan baik karena mengandung
kualitas-kualitas pengirisan didalam dirinya, sedangkan nilai instrumentalnya
ialah pisau yang baik adalah pisau yang dapat digunakan untuk mengiris, jadi
dapat menyimpulkan bahwa nilai Instrinsik ialah nilai yang yang dikandung pisau
itu sendiri atau sesuatu itu sendiri, sedangkan Nilai Instrumental ialah Nilai
sesuatu yang bermanfaat atau dapat dikatakan Niai guna.
Aksiologi memberikan manfaat untuk mengantisipasi perkembangan kehidupan
manusia yang negatif sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi tetap berjalan
pada jalur kemanusiaan. Oleh karena itu daya kerja aksiologi ialah :
1. Menjaga dan memberi arah agar proses keilmuan dapat menemukan kebenaran
yang hakiki, maka prilaku keilmuan perlu dilakukan dengan penuh kejujuran dan
tidak berorientasi pada kepentingan langsung.
2. Dalam pemilihan objek penelahaan dapat dilakukan secara etis yang tidak
mengubah kodrat manusia, tidak merendahkan martabat manusia, tidak mencampuri
masalah kehidupan dan netral dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik, arogansi
kekuasaan dan kepentingan politik.
3. Pengembangan pengetahuan diarahkan untuk meningkatkan taraf hidup yang
memperhatikan kodrat dan martabat manusia serta keseimbangan, kelestarian alam
lewat pemanfaatan ilmu dan temuan-temuan universal.
Problem
utama aksiologi ujar runes22 berkaitan dengan empat factor penting
sebagai berikut.
1. Kodrat nilai berupa problem mengenai :
voluntarisme Spinoza, hedonisme, perry, Martineau,kant.
2. Jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan
pandangan antara nilai instrinsik, ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu
sendiri,nilai-nilai instrumental yang menjadi penyebab (baik barang-barang
ekonomis atau peristiwa-peristiwa alamiah)mengenai nilai-nilai instrinsik.
3. Criteria nilai artinya ukuran untuk
menguji nilai yang di pengaruhi sekaligus oleh teori psikilogi dan logika.
4.
Status
metafisik nilai mempersoalkan tentang bagaiman hubungan antara nilai terhadap
fakta-fakta yang di selidiki melalui ilmi-ilmu kealaman (Koehler).ada tiga
jawaban penting yang di ajukan dalam persoalan status metafisika nilai ini
yaiti:
a. Subjektivisme mrnganggap bahwa nilai
merupakan sesuatu yang terkait pada pengalamn manusia, seperti halnya:
hedonisme, naturalism, positivism.
b. Objektivisme logis mengangap bahwa nilai
merupakan hakikat atau subsistensi logis yang bebas dari keberadaanya yang
diketahui, tanpa status eksistensial atau tindakan dalam realitas.
c. Objektivisme metafisika menganggap bahwa
nilai atau norma adalah integral, objektif dan unsure-unsur aktif kenyataan
metafisik, seperti yang di anut oleh: theism, absolutism, realism.
B. Pendekatan pendekatan dalam aksiologi
Pendekatan-pendekatan dalam aksiologi dapat dijawab
dengan tiga macam cara , yaitu:
1.
Nilai sepenuhnya berhakekat subyektif. Ditinjau dari
sudut pandang ini, nilai-nilai merupakan reksi-reaksi yang diberikan oleh
manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung pada pengalaman-pengalaman
mereka.
2.
Nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan yang ditinjau
dari segi ontologi namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu.
3.
Nilai-nilai meupakan unsur-unsur obyektif yang menyusun
kenyataan.[4]
C. Nilai Dalam Aksiologi
Dalam aksiologi ada dua komponen yang mendasar yakni
Etika dan Estetika.
1.
Etika
Istilah etika berasal
dari bahasa yunani “ethos” yang berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain
dinamakan moral yang berasal dari bahasa latin “mores”, kata jamak dari mos
yang berarti adat kebiasaan.[5]
Etika adalah cabang filsafat aksiologi yang
membahas masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilaku, norma,
dan adat istiadat yang berlaku pada komunitas tertentu. Etika merupakan cabang
filsafat tertua karena ia telah menjadi kajian menarik sejak masa sokrates dan
para kaum sophis. Di situlah dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan,
keadilan dan sebaginya. Jadi, tema sentral yang menjadi pembicaraan dalam etika
adalah nilai “betul” (right) dan “salah” (wrong) dalam arti moral dan immoral.[6]
Hasil kupasan-kupasan
kitab suci dan prestasi akal kaum filsafat maka timbullah beberapa macam aliran
dalam filsafat etika. Dan diantara yang paling terkenal ada enam aliran yaitu :
a.
Naturalisme
Aliran ini menganggap
bahwa kebahagiaan manusia didapatkan dengan menurutkan panggilan natur(fitrah)
dari kejadian manusia itu sendiri. Perbuatan yang baik menurut aliran ini ialah
perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan natur manusia. Baik mengenai fitrah
lahir ataupun batin. Kalau lebih menekankan pada fitrah lahirnya dinamakan
aliran etika materialisme. Tetapi pada aliran naturalisme ini faktor lahir
batin itu sama pentingnya sebab kedua-duanya adalah fitrah (natur) manusia.
Aliran ini cara
pemikiranya tentang etika adalah sebagai berikut: Di dalam dunia ini segala
sesuatu menuju satu tujuan saja. Dengan
memenuhi panggilan naturnya masing-masing mereka menuju kebahagiaannya yang
sempurna. Benda mati dan tumbuhan menuju pada tujuan itu secara otomatis yakni tanpa pertimbangan atau perasaan. Kalau
hewan-hewan menuju tujuan dengan instinct (naluri)-nya maka manusia menuju
tujuannya itu dengan akal.
b.
Hedonisme
Menurut aliran
hedonisme ini perbuatan yang baik (susila) itu adalah perbuatan yang
menimbulkan dedone(kenikmatan atau kelezatan). Dan contoh yang terkenal dari
aliran hedonisme ini ialah etika kaum Epikurisme. (mazdhab epikuros dibangun
oleh epikuros: 341-270 SM).[7]
Menurut Epikuros semua
manusia ingin mencapai kelezatan(hedone). Begitu juga hewan ingin mencapai
kelezatan. Dan semua didorong oleh watak manusia dan bukan disebabkan oleh
pelajaran atau pemikiran akal. Dan karena semua sudah menjadi watak(tabiat)
manusia ingin kepada kelezatan itu, maka diteruskan tujuan hidup manusia semua
adalah mencari kelezatan. Dan karena kelezatan merupakan tujuan, maka semua
jalan yang mencapaikan kepadanya adalah suatu hal yang utama atau berharga.
Akal, pengetahuan serta kebijaksanaan dianggap keutamaan karena mereka juga
jalan menuju kelezatan itu.
Kita tidak dapat
mengatakan bahwa segala sesuatu yang lezat adalah baik, tetapi menurut Epikuros
sebenarnya setiap yang yang lezat adalah baik. Dan semua jalan kepadanya juga
adalah baik.
c.
Utilitarisme
Aliran ini juga
dinamakan utilisme atau utilitarianisme. Semua ditarik dari utility yang
berarti manfaat. Definisinya, aliran utilitarisme ialah aliran yang menilai
baik dan buruk perbuatan itu ditinjau dari kecil besarnya manfaatnya bagi
manusia.
Tokoh yang terpenting
dalam aliran ini ialah John stuart mill. Menurutnya yang dinamakan kebaikan
tertinggi ialah utility(manfaat). Dari penyelidikanya bahwa tiap-tiap pekerjaan
manusia diarahkan kepada manfaat. Jadi ukuran baik-buruknya suatu perbuatan itu
harus diukur dari manfaat yang dihasilkan.
Yang dinamakan manfaat
menurut J.S. Mill ialah suatu kebahagiaan untuk jumlah manusia yang
sebesar-besarnya. “utility is happiness for the greateast number of sentient
beings”.[8]
Dengan demikian etika
menurut aliran ini ialah mencapai kesenangan hidup sebanyak mungkin baok
dilihat dari segi quality ataupun quantity.
d.
Idealisme
Aliran idealisme dalam
hal metafisika berpendirian bahwa wujud yang paling dalam dari kenyataan ialah
yang bersifat kerohanian. Begitu juga dalam masalah etika aliran idealisme ini
berpendapat bahwa perbuatan manusia haruslah tidak terikat pada sebab-musabab
lahir tetapi setiap perbuatan manusia haruslah terikat pada prinsip kerohanian
yang lebih tinggi.
Contoh yang terbaik
dari aliran etika idealisme ini adalah ajaran kantianisme ( ajaran Immanuel
kant: 1725-1804). Dalam hal etika Kant mempergunakan akal praktis. Akal yang
praktis ini artinya dalam etika ialah akal yang menjadi pedoman untuk
bertindak(praktek) sehari-hari untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat.
e.
Vitalisme
Aliran ini menilai baik
buruknya perbuatan manusia memakai ukuran ada tidaknya daya hidup yang
maksimum mengendalikan perbuatan itu. Yang dianggap baik menurut aliran ini
ialah orang yang kuat yang dapat memaksakan dan melangsungkan kehendaknya yang
berkuasa dan sanggup menjadikan dirinya selalu ditaati oleh orang-orang yang
lemah.
Tokoh terkenal dari
aliran ini adalah Friendich nietzsche (1844-1900). Nietzsche dalam filsafat
menonjolkan eksistensi (perwujudan) manusia baru sebagai Ubermensch yang
berkemauan keras menempuh hidup baru sebagai dewa yang menghancurkan yang lama
dan menciptakan yang baru sama sekali.
f.
Theologis
Aliran ini berpendapat
bahwa ukuran baik dan buruk dalam perbuatan manusia itu diukur dengan
pertanyaan apakah dia sesuai dengan perintah tuhan atau tidak. Amal perbuatan
yang baik menurut aliran ini ialah amal perbuatan yang sesuai dengan perintah
Tuhan yang tertulis dalam Kitab suci. Sedang perbuatan-perbuatan yang buruk
ialah bertentangan dengan perintah tuhan atau mengerjakan larangan-larangan
Tuhan.
2.
Estetika
Estetika merupakan
bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan
mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang
tertata secara tertib dan harmonis dalam suatu hubungan yang utuh menyeluruh.
Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras
serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian .
Estetika dibedakan
antara suatu bagian deskriktif dan bagian normatif. Bagian deskriktif
menggambarkan gejala-gejala pengalaman keindahan, sedangkan bagian normatif
mencari dasar pengalaman itu.
Sebenarnya keindahan
bukanlah merupakan suatu kualitas objek, melainkan sesuatu yang senantiasa
berhubungan dengan perasaan.
C. Kesimpulan
Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion
yang berarti nilai dan logosyang berarti teori.Jadi aksiologi dapat
diartikan sebagai ‘’teori tentang nilai’’.[9]Untuk
lebih mengenal apa yang dimaksud dengan aksiologi, ini adalah beberapa definisi
tentang aksiologi, diantaranya:
Pendekatan-pendekatan dalam aksiologi dapat dijawab dengan tiga macam cara
, yaitu:
1.
Nilai sepenuhnya berhakekat subyektif.
2.
Nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan.
3.
Nilai-nilai meupakan unsur-unsur obyektif .
Dalam aksiologi ada dua
komponen yang mendasar yakni Etika dan Estetika.
Etika adalah cabang filsafat aksiologi yang
membahas masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilaku, norma,
dan adat istiadat yang berlaku pada komunitas tertentu.
Estetika merupakan bidang studi manusia yang
mempersoalkan tentang nilai keindahan.
DAFTAR
PUSTAKA
Burhanuddin Salam, LogikaMateril,
filsafat ilmu pengetahuan,jakarta:Reneka Cipta, 1997.
Jujun S.Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah
Pengantar Populer,Jakarta:Pustaka Sinar Harapan 1995
Jalaluddin, Abdullah Idi, Filsafat
pendidikan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.
Risieri Frondizi,pengantar
Filsafat Nilai,Yogyakarta:2007.
Hasbullah bakri, sistemik
filsafat,jakarta: widjaja, 1970.
Loekisno choiril warsito dkk, pengantar
filsafat, Surabaya: IAIN sunan ampel
press, 2012.
Hasbullah bakri, sistemik filsafat,
jakarta: widjaja, 1970.
Burhanuddin Salam, LogikaMateril,
filsafat ilmu pengetahuan, jakarta:Reneka Cipta, 1997.
[1] Burhanuddin Salam, LogikaMateril, filsafat ilmu
pengetahuan,(jakarta:Reneka Cipta, 1997), cet ke 1, hlm 168.
[2]Jujun S.Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah
Pengantar Populer,(Jakarta:Pustaka
Sinar Harapan, 1995)hlm,234.
[3] Jalaluddin, Abdullah Idi, Filsafat pendidikan, (Jakarta: Gaya
Media Pratama, 1997), cet.ke 1, hlm,106.
[4] Risieri Frondizi,pengantar Filsafat Nilai,(Yogyakarta:2007),
hlm,167.
[5] Hasbullah bakri, sistemik filsafat,(jakarta: widjaja,
1970),hal.62.
[7] Hasbullah bakri, sistemik filsafat(jakarta: widjaja,
1970),hal.81.


Post a Comment for "AKSIOLOGI "